Masyarakat di Kabupaten Lamongan kembali berada dalam posisi waspada tinggi seiring dengan meningkatnya debit air di sungai terpanjang di Pulau Jawa. Fenomena Luapan Bengawan Solo dilaporkan mulai menggenangi beberapa akses jalan desa dan area persawahan yang berada di wilayah bantaran sungai. Ancaman banjir tahunan ini seolah menjadi agenda rutin yang tidak kunjung menemukan solusi permanen, memaksa warga untuk selalu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk harus mengungsi dari rumah mereka di tengah kekhusyukan menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan.
Risiko akibat Luapan Bengawan ini sangat dirasakan oleh para petani yang baru saja melakukan penanaman padi di awal musim hujan. Ribuan hektar lahan terancam gagal panen jika air kiriman dari wilayah hulu terus mengalir dalam volume besar tanpa kendali yang baik di pintu-pintu air. Bagi warga Lamongan yang tinggal di kawasan Laren atau Babat, suara gemuruh air sungai yang meninggi di malam hari sering kali menimbulkan rasa cemas yang mendalam. Mereka harus terus memantau papan duga air secara bergantian guna memastikan apakah mereka perlu segera memindahkan perabotan rumah tangga ke tempat yang lebih tinggi atau tidak.
Pemerintah daerah melalui BPBD telah menyiagakan posko darurat dan peralatan evakuasi di titik-titik rawan terdampak Luapan Bengawan tersebut. Namun, masyarakat berharap adanya percepatan pembangunan tanggul yang lebih kokoh dan sistem drainase yang lebih modern untuk meminimalisir dampak luapan di masa depan. Kerugian materiil yang dialami warga setiap tahunnya akibat bencana ini sudah sangat membebani ekonomi keluarga, apalagi di saat harga kebutuhan pokok sedang mengalami kenaikan tajam menjelang lebaran. Penanganan banjir tidak boleh hanya bersifat reaktif saat kejadian, melainkan harus berupa mitigasi jangka panjang yang berkelanjutan.
Dampak sosial dari Luapan Bengawan ini juga mengganggu aktivitas ibadah warga di masjid-masjid yang terendam air. Banyak kegiatan pesantren kilat atau tadarus Al-Qur’an yang terpaksa dihentikan sementara karena akses menuju rumah ibadah terputus oleh genangan air setinggi paha orang dewasa. Hal ini tentu menjadi ujian kesabaran yang luar biasa bagi warga Lamongan yang harus berpuasa dalam kondisi lingkungan yang basah dan tidak higienis. Solidaritas antarwarga menjadi kunci kekuatan dalam menghadapi bencana ini, di mana mereka saling membantu menjaga keamanan lingkungan dan menyediakan makanan sahur bagi warga yang rumahnya terendam.