Proses Pewarnaan Alami Kain Tenun Soga Pakai Kayu Tingi Lamongan

Proses Pewarnaan alami pada kain tenun tradisional soga menggunakan racikan ekstrak kulit kayu tingi merupakan kearifan lokal kerajinan kriya tekstil di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Pewarnaan soga alami menghasilkan nuansa warna cokelat hangat, kemerahan eksotis, dan warna tanah yang sangat anggun pada lembaran kain tenun ikat. Kulit pohon tingi (Ceriops tagal) yang banyak tumbuh di kawasan hutan mangrove pesisir Lamongan dikenal kaya akan kandungan zat tanin alami yang mampu mengikat kuat pada serat katun dan sutra. Penggunaan pewarna tanaman alami ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan nilai keeksotisan warna yang abadi pada produk kain tradisional.

Tahapan pembuatan larutan pewarna diawali dengan mengumpulkan potongan kulit kayu tingi kering dari pemangkasan pohon secara bijak. Potongan kulit kayu tersebut dicacah menjadi bagian-bagian kecil lalu direbus dalam kuali tembaga besar bersama air bersih selama beberapa jam hingga mendidih pekat. Proses perebusan ini bertujuan mengekstrak seluruh pigmen tanin alami berwarna cokelat kemerahan dari dalam serat kulit kayu tingi secara maksimal. Air ekstrak kayu tingi pekat kemudian disaring dari sisa ampas kayu dan didinginkan dalam wadah penampungan steril sebelum siap digunakan untuk tahap pencelupan kain.

Memasuki tahap pewarnaan, gulungan benang atau lembaran kain tenun yang telah dibersihkan dimasukkan ke dalam wadah cairan soga kayu tingi. Proses Pewarnaan ini dilakukan melalui teknik pencelupan dingin secara berulang-ulang, di mana kain dicelupkan, diremas secara perlahan agar warna meresap merata, lalu diangkat dan diangin-anginkan di tempat teduh. Pengulangan proses pencelupan ini dilakukan hingga puluhan kali selama beberapa hari guna mencapai tingkat kepekatan warna cokelat soga yang diinginkan oleh pengrajin. Kesabaran menjadi kunci utama agar pigmen warna tanaman alami terikat sempurna pada tiap helaian serat katun kain.

Setelah tingkat kepekatan warna cokelat soga dicapai, kain tenun melalui tahapan fiksasi atau penguncian warna menggunakan larutan air tawas, kapur sirih, atau tunjung. Penggunaan zat fiksasi alami ini berfungsi mengunci molekul warna soga kayu tingi di dalam pori-pori benang serta memberikan variasi gradasi warna akhir, mulai dari warna cokelat muda keemasan hingga warna cokelat pekat kehitaman yang terkesan sangat eksklusif. Kain tenun soga alami kemudian dicuci bersih menggunakan air mengalir dan dikeringkan di tempat yang terhindar dari paparan sinar matahari langsung.

Keindahan warna cokelat eksotis hasil olahan pewarna alami kayu tingi Lamongan ini memancarkan cita rasa seni tradisional bernilai tinggi yang sangat dicari oleh pencinta busana etnik dunia. Melalui Proses Pewarnaan ramah lingkungan yang tidak mencemari ekosistem perairan lokal, para perajin tenun Lamongan berhasil membuktikan bahwa industri tekstil tradisional dapat berjalan selaras dengan prinsip pelestarian alam harian. Penguatan jaringan pemasaran secara digital kian memperluas jangkauan penjualan kain tenun soga alami ke pasar global. Mari kita terus mendukung dan mengagumi karya kriya tekstil pewarna alami milik bangsa Indonesia.