Di Desa Tlemang, Kabupaten Lamongan, terdapat satu tradisi yang sangat Unik Tradisi Mendak Sangring yang hingga kini masih dijaga kelestariannya dengan penuh kekhidmatan. Tradisi ini merupakan perayaan tahunan yang berkaitan dengan sejarah perjalanan Sunan Drajat di wilayah tersebut. Puncak dari perayaan ini adalah penyajian hidangan soto yang secara khusus dimasak oleh kaum pria, sebuah aturan yang telah berlaku selama ratusan tahun. Tradisi ini bukan hanya sekadar urusan kuliner harian, melainkan bentuk pengingat akan sejarah dan kearifan lokal yang membedakan masyarakat Lamongan dari wilayah Jawa lainnya.
Keunikan tradisi ini terletak pada keseragaman aturan adat yang mengharuskan kaum pria turun tangan langsung di dapur untuk meracik bumbu dan memasak soto hingga siap disajikan. Dalam Unik! Tradisi Mendak Sangring ini, keterlibatan pria tidak dianggap sebagai hal yang tabu, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap peran sejarah tokoh masyarakat yang pernah singgah di desa tersebut. Soto yang dimasak oleh kaum pria ini diyakini memiliki rasa yang lebih otentik dan membawa keberkahan bagi siapa pun yang memakannya, sehingga proses memasaknya dilakukan dengan penuh perhatian dan semangat gotong royong yang sangat tinggi.
Bagi masyarakat lokal, perayaan ini adalah momen untuk mempererat persaudaraan dan berbagi kebahagiaan setelah masa panen berakhir. Unik! Tradisi Mendak Sangring juga menjadi ruang bagi para generasi muda untuk mendengarkan kembali cerita sejarah tentang perjuangan para leluhur di masa lalu. Atmosfer kebersamaan yang tercipta saat hidangan soto disajikan di meja-meja makan warga menjadi pemandangan yang sangat hangat dan menenangkan. Keberadaan tradisi kuliner unik ini membuktikan bahwa Lamongan adalah wilayah yang sangat kaya akan nilai-nilai sosial yang terbungkus rapi dalam ritual yang sederhana namun penuh makna.
Tantangan dalam memelihara tradisi ini adalah bagaimana menjaga nilai-nilai adat tersebut tetap relevan di tengah pergaulan sosial yang semakin dinamis. Jangan sampai aturan memasak oleh kaum pria ini dianggap sebagai beban, melainkan sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menjaga warisan budaya yang tak ternilai. Penting bagi para sesepuh desa untuk terus memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai makna di balik Unik! Tradisi Mendak Sangring sehingga mereka merasa bangga ketika harus menjalankan peran tersebut. Dengan demikian, tradisi ini tidak akan pernah pudar, meski zaman telah berganti dan teknologi semakin maju pesat.